Pertanyaan:
Jika seorang isteri berselingkuh dengan laki-laki lain, apakah ayah dapat memperoleh hak asuh anak ketika terjadi perceraian?
Jawaban:
Perselingkuhan isteri tidak otomatis membuat hak asuh anak beralih kepada ayah.
Dalam perkara hak asuh anak, hakim akan melihat kepentingan dan tumbuh kembang anak.
Karena itu, suami perlu membuktikan bahwa perilaku isteri memberikan dampak buruk terhadap anak.
Selain itu, kita perlu membedakan antara perselingkuhan dan perzinaan. Keduanya tidak selalu mempunyai arti hukum yang sama.
Apakah Perselingkuhan Sama dengan Perzinaan?
Tidak selalu. Istilah perselingkuhan mempunyai pengertian yang lebih luas. Sementara itu, hukum pidana mengatur secara khusus mengenai perzinaan yang kualifikasinya masuk kategori hukum pidana yang dimana dahulu diatur dalam Pasal 284 KUHP sebagai dasar hukum perzinaan.
Namun, sejak 2 Januari 2026, Indonesia telah memberlakukan KUHP Nasional melalui UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Karena itu, dasar hukum yang berlaku sekarang adalah Pasal 411 UU No. 1 Tahun 2023.
Pasal tersebut pada pokoknya mengatur perbuatan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau isterinya sebagai tindak pidana perzinaan.
Untuk membaca aturan lengkapnya, lihat UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP – BPK RI.
Dengan demikian, terdapat bukti hubungan dekat, percakapan WhatsApp, atau pertemuan dengan pihak ketiga belum tentu membuktikan perzinaan.
Namun, bukti tersebut tetap dapat memiliki nilai dalam perkara perceraian atau hak asuh jika menunjukkan keadaan rumah tangga dan kondisi anak.
Apakah Harus Ada Putusan Pidana Zina?
Tidak selalu.
Jika suami ingin menyatakan bahwa isteri melakukan tindak pidana perzinaan, tentu pembuktiannya harus memenuhi unsur hukum pidana.
Namun, dalam sengketa hak asuh anak, hakim tidak hanya melihat apakah terdapat putusan pidana zina.
Hakim juga dapat menilai berbagai fakta yang muncul selama persidangan.
Misalnya, suami dapat menunjukkan bukti mengenai perilaku ibu, keadaan anak, pola pengasuhan, atau lingkungan tempat anak tinggal.
Karena itu, fokus utama dalam sengketa hak asuh bukan sekadar membuktikan bahwa ibu berselingkuh.
Ayah juga perlu membuktikan hubungan antara perilaku tersebut dengan kepentingan dan tumbuh kembang anak.
Apakah Hak Asuh Anak Dapat Beralih kepada Ayah karena Ibu Selingkuh?
Pada prinsipnya, Pasal 105 KHI memberikan hak pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun kepada ibu.
Anda dapat membaca pembahasan lebih lengkap dalam artikel Ibu Mendapatkan Hak Asuh Anak di Bawah 12 Tahun.
Namun, ketentuan tersebut tidak berarti ibu selalu memperoleh hak asuh dalam setiap keadaan.
Hukum tetap membuka kemungkinan bagi ayah untuk memperoleh hak asuh.
Karena itu, hakim akan melihat kondisi konkret anak dan kemampuan masing-masing orang tua.
Dasar Hak Asuh Anak Dapat Jatuh kepada Ayah
Salah satu dasarnya terdapat dalam SEMA No. 1 Tahun 2017, Rumusan Kamar Perdata Poin d, yang menyebutkan:
“Hak ibu kandung mengasuh anak di bawah umur setelah terjadi perceraian dapat diberikan kepada ayah kandung sepanjang pemberian hak tersebut memberikan dampak positif terhadap tumbuh kembang anak dengan juga mempertimbangkan kepentingan / keberadaan / keinginan si anak pada saat proses perceraian.”
SEMA No. 1 Tahun 2017 masih berstatus berlaku pada JDIH Mahkamah Agung. Anda dapat melihat sumber resminya melalui SEMA No. 1 Tahun 2017 – JDIH Mahkamah Agung.
Selain itu, Pasal 156 huruf (c) KHI menyebutkan:
“Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaann kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula.”
Dengan dasar tersebut, ayah mempunyai peluang memperoleh hak asuh apabila dapat membuktikan keadaan yang mendukung kepentingan anak.
Baca juga: Dapatkah Ayah Mendapatkan Hak Asuh Anak?
Apa yang Harus Ayah Buktikan di Pengadilan?
Perselingkuhan ibu saja belum tentu cukup untuk memindahkan hak asuh. Karena itu, ayah perlu menghubungkan perilaku tersebut dengan kondisi anak. Misalnya, perilaku ibu memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak atau ibu meninggalkan anak dalam jangka waktu lama, lalu disisi lain ayah yang mengurus anak.
Selain itu, ayah perlu menyiapkan saksi dan bukti yang mendukung dalil tersebut. lalu yang paling penting bukti tersebut harus dianggap kuat oleh hakim.
Dengan demikian, hakim memungkinkan dapat menilai kondisi pengasuhan secara menyeluruh.
Bukti Apa yang Bisa Ayah Gunakan?
Ayah dapat menggunakan bukti yang berkaitan langsung dengan kondisi anak.
Misalnya, ayah dapat mengajukan percakapan, foto, video, dokumen sekolah, atau bukti lain yang relevan.
Selain itu, saksi dapat menjelaskan bagaimana ibu mengasuh anak sehari-hari.
Namun, ayah sebaiknya tidak hanya mengumpulkan bukti perselingkuhan.
Sebaliknya, ayah perlu menunjukkan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi anak.
Karena itu, bukti mengenai pengasuhan sering kali memiliki peran penting dalam sengketa hak asuh.
Apakah Isteri Selingkuh Otomatis Kehilangan Hak Asuh?
Tidak. Hakim tidak otomatis memindahkan hak asuh hanya karena suami menuduh isteri berselingkuh.
Pertama, suami harus membuktikan fakta yang ia dalilkan.
Selanjutnya, hakim akan melihat dampaknya terhadap anak.
Selain itu, hakim akan mempertimbangkan kemampuan ayah dalam mengasuh anak.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan semata-mata siapa yang melakukan kesalahan dalam perkawinan.
Hakim juga melihat siapa yang dapat memberikan pengasuhan terbaik bagi anak.
Kesimpulan
Isteri yang berselingkuh tidak otomatis kehilangan hak asuh anak. Namun, ayah tetap dapat meminta hak asuh apabila mempunyai alasan dan bukti yang kuat. Selain itu, ayah perlu membuktikan bahwa kondisi pengasuhan ibu memberikan dampak negatif terhadap anak.
SEMA No. 1 Tahun 2017 membuka kemungkinan hak asuh anak jatuh kepada ayah jika hal tersebut memberikan dampak positif terhadap tumbuh kembang anak.
Selain itu, Pasal 156 huruf (c) KHI membuka kemungkinan pemindahan hadhanah jika pemegang hak asuh tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak.
Karena itu, keberhasilan ayah memperoleh hak asuh sangat bergantung pada fakta dan bukti dalam persidangan.
Konsultasi Hak Asuh Anak
Legal Keluarga membantu klien dalam perkara perceraian dan sengketa hak asuh anak.
Kami dapat membantu memeriksa bukti, menyusun gugatan, serta mendampingi proses persidangan.
Jika Anda ingin berkonsultasi mengenai isteri selingkuh dan hak asuh anak ke ayah, silakan hubungi:
Legal Keluarga
Telepon/WhatsApp: 0813-8968-6009
Email: klien@legalkeluarga.id